Tugas 1 Epidemiologi

Nama : Asri
Nim    : 2014-66-029
EPIDEMIOLOGI SESI (02)

Perubahan Pada Penyakit Tidak Menular dan Kematian di Indonesia

A. Situasi Global

           Berdasarkan data dari Kemenkes angka kematian di Indonesia akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) makin meningkat dari tahun ke tahun. Perubahan gaya hidup dan mobilitas masyarakat dianggap menjadi faktor utama tingginya kematian akibat PTM tersebut.
Seperti diketahui Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyakit menahun atau kronis yang diakibatkan oleh pola gaya hidup yang tidak sehat seperti perilaku mengkonsumsi makanan rendah serat dan tinggi lemak, dan kurang beraktivitas fisik serta kebiasaan merokok. Contoh penyakit tidak menular: Hipertensi, Penyakit Jantung, Diabetes Mellitus, Kanker, Osteoporosis, Stroke dan laini-lain.
Tahun 1990, angka kematian akibat PTM di Indonesia masih berada pada angka 37%. Pada 2000, kematian akibat PTM menjadi 49%, terus meningkat pada tahun 2010 menyentuh angka 58%. Data terakhir sampai pertengahan tahun 2015 angka kematian akibat PTM telah mencapai 57%.
Dilihat dari tren tersebut angka PTM saat ini seperti angka kematian akibat penyakit menular di 90-an atau kebalikannya di mana dulu kematian akibat penyakit menular masih mendominasi.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan 2013 menunujukkan mayoritas masyarakat masa kini hidup dengan gaya yang tidak sehat. Sebanyak 36,3% penduduk di atas usia 15 tahun ialah perokok. Sekitar 93,5% penduduk di atas usia 10 tahun kurang mengonsumsi buah dan sayur. Selain itu, sebanyak 26,1% dan 4,6% penduduk kurang beraktivitas fisik dan mengonsumsi alkohol.
Penyebab Kematian Terbesar pada PTM 2015
• Stroke
• Kecelakaan Lalu Lintas
• Jantung Iskemik
• Kanker
• Diabetes Mellitus

Untitled

B. Situasi Indonesia

Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir menghadapi masalah triple burden diseases. Di satu sisi, penyakit menular masih menjadi masalah ditandai dengan masih sering terjadi KLB beberapa penyakit menular tertentu, munculnya kembali beberapa penyakit menular lama (re-emerging diseases), serta munculnya penyakit-penyakit menular baru (new-emergyng diseases) seperti HIV/AIDS, Avian Influenza, Flu Babi dan Penyakit Nipah. Di sisi lain, PTM menunjukkan adanya kecenderungan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 dan 2001, tampak bahwa selama 12 tahun (1995-2007) telah terjadi transisi epidemiologi dimana kematian karena penyakit tidak menular semakin meningkat, sedangkan kematian karena penyakit menular semakin menurun (lihat grafik gambar 1). Fenomena ini diprediksi akan terus berlanjut.

Untitled1

Gambar 1 : Distribusi penyebab kematian menurut kelompok penyakit di Indonesia,
SKRT 1995, SKRT 2001, Riskesdas 2007
Sumber    : Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007

Gambar 1 di atas memperlihatkan bahwa selama tahun 1995 hingga 2007 di Indonesia proporsi penyakit menular telah menurun sepertiganya dari 44,2% menjadi 28,1%, akan tetapi proporsi penyakit tidak menular mengalami peningkatan cukup tinggi dari 41,7% menjadi 59,5%, sedangkan gangguan maternal/perinatal dan kasus cedera relatif stabil.

Menurut profil PTM WHO tahun 2011, di Indonesia tahun 2008 terdapat 582.300 laki-laki dan 481.700 perempuan meninggal karena PTM5.

Gambaran Penyakit Tidak Menular Berdasarkan Data Rumah Sakit
Saat ini di Indonesia, data morbiditas penyakit dari fasilitas kesehatan dikumpulkan dari puskesmas dan rumah sakit. Karena penegakan diagnosis PTM di rumah sakit relatif lebih valid, maka analisis PTM dilakukan terhadap data rumah sakit.
Data analisis diperoleh dari laporan rumah sakit melalui Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) edisi 2010 dan 2011 (data 2009 dan data 2010) yaitu RL2B (Rawat Jalan) dan RL2A (Rawat Inap), yang merupakan laporan rumah sakit langsung ke Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan, Kementerian Kesehatan. Data tahun 2009-2010 diperoleh dari publikasi data mentah SIRS edisi 2010-2011.
Pelaporan RL2A (rawat inap) pada tahun 2009-2010 masih rendah yaitu secara nasional hanya 29,2% pada tahun 2009, kemudian turun menjadi 24,63% pada tahun 2010 rumah Sakit yang mengirim laporan. Begitu juga halnya dengan laporan RL2B (rawat jalan) laporannya dari tahun 2009-2010 masih rendah yaitu 28,37% pada tahun 2009, turun menjadi 26,29% pada tahun 2010 rumah Sakit yang mengirim laporan.Untitled2

Gambar 2 : Rumah Sakit Yang Melapor RL2A dan RL2B di Indonesia tahun 2009 -2010
Sumber    : Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) Tahun 2010-2011

Berdasarkan provinsi, tahun 2009, provinsi dengan rumah sakit yang sama sekali tidak melapor RL2A adalah Provinsi Gorontalo dan RL2B adalah Provinsi Gorontalo dan Papua. Jumlah rumah sakit tersedikit yang melapor untuk pelaporan RL2A adalah Provinsi Papua, Sulawesi Selatan dan Bengkulu sedangkan jumlah rumah sakit yang melapor RL2B adalah Provinsi Sulawesi Selatan, Bengkulu dan Maluku Utara. Jumlah rumah sakit terbanyak yang melapor untuk pelaporan RL2A adalah Provinsi Sulawesi Tenggara, Jambi dan Sulawesi Barat, sedangkan untuk jumlah rumah sakit terbanyak yang melapor RL2B adalah Provinsi Sulawesi Tenggara, Jambi dan DKI Jakarta. Sedangkan untuk tahun 2010, provinsi dengan rumah sakit yang sama sekali tidak melapor RL2A yaitu Provinsi Gorontalo dan Papua Barat sedangkan rumah sakit yang tidak melapor RL2B adalah Provinsi Papua Barat. Jumlah rumah sakit tersedikit yang melapor untuk pelaporan RL2A adalah Provinsi Maluku Utara, Banten dan Papua sedangkan jumlah rumah sakit tersedikit yang melapor RL2B adalah Provinsi Papua, Banten dan Maluku Utara. Jumlah rumah sakit terbanyak yang melapor untuk pelaporan RL2A adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Tengah dan Nusa Tenggara Timur, sedangkan untuk jumlah rumah sakit terbanyak yang melapor RL2B adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Berdasarkan jumlah kunjungan pasien rawat jalan dan rawat inap dari seluruh RS yang melapor tahun 2010 terhadap jumlah penduduk Indonesia, diperoleh sekitar 5% penduduk mendapat pelayanan kesehatan di RS. Persentase ini lebih rendah dari situasi riil, karena hanya berdasarkan data RS yang melapor. Data Riskesdas 2007 menunjukkan sebanyak 5,1% rumah tangga memilih rawat inap di RS pemerintah dan swasta serta sebanyak 17,7% responden yang memanfaatkan RS (pemerintah dan swasta), RS luar negeri dan RB (rumah bersalin).
Dalam pengolahan data mentah SIRS 2009-2010 terdapat keterbatasan dikarenakan terdapatnya pengelompokkan beberapa penyakit dalam satu kode laporan Daftar Tabulasi Dasar (DTD), sehingga sulit memilah antara data penyakit tidak menular dan penyakit menular pada kelompok penyakit tertentu (contoh: Demam yang sebabnya tidak diketahui, Konjungtivitis dan gangguan lain konjungtiva, Karies gigi). Sehingga dilakukan eksklusi (dikeluarkan) dari pengolahan data, terhadap kelompok penyakit yang tidak dapat dilakukan pemecahan antara penyakit menular dan tidak menular.

KESIMPULAN

  1. Secara nasional jumlah rumah sakit yang melapor pada tahun 2009 – 2010 masih rendah yaitu 29,2% RS (2009); 24,63% RS (2010) mengirim laporan RL2A (rawat inap) dan 28,37% RS (2009); 26,29% RS (2010) yang mengirim laporan RL2B (rawat jalan).
  2. Proporsi kasus baru rawat jalan terhadap total kunjungan seluruh kasus baru penyakit (rawat jalan) pada tahun 2009-2010 mempunyai pola yang sama, yaitu yang terbanyak adalah penyakit tidak menular, diikuti penyakit menular, cedera dan yang terakhir adalah penyakit maternal dan perinatal.
  3. Proporsi kasus baru rawat jalan penyakit tidak menular berdasarkan jenis kelamin dari tahun 2009 dan 2010 mempunyai pola yang sama yaitu tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok laki-laki dan kelompok perempuan yang di rawat jalan.
  4. Proporsi kasus baru rawat jalan PTM berdasarkan kelompok umur dari tahun 2009 dan 2010 mempunyai pola yang sama, yaitu yang paling tinggi adalah pada kelompok umur 45-64 tahun kemudian diikuti kelompok umur 25-44 tahun.
  5. Persentase kasus baru rawat jalan PTM tertinggi berdasarkan provinsi tahun 2009 adalah Provinsi Sumatera Selatan dan Lampung, sedangkan untuk tahun 2010 persentase kasus rawat jalan PTM yang tertinggi adalah Provinsi Gorontalo dan Lampung. Propinsi yang presentase rawat jalan PTM terendah pada tahun 2009 terjadi di Papua Barat dan Banten, sedangkan pada tahun 2010 terjadi di propinsi Papua dan Bangka Belitung.

DAFTAR PUSTAKA

SILAKAN DOWNLOAD DISINI DOC ……

Iklan

About Me

Hello, perkenalkan nama saya asri ,keluarga dan teman-teman dirumah saya biasanya memanggil saya riri. saya lahir di jakarta ,26 agustus 1996 . saya berasal dari sumatra barat, sawahluntuh tapi saya tinggal di DKI Jakarta . saya mempunyai satu kakak laki-laki dan tidak mempunyai adik, saya dua bersaudara#udahtau.saya mempunyai kedua orang tua yang sangat menyanyangi saya, ayah saya bekerja wiraswasta dan bunda saya ibu rumah tangga. saya sering curhat kepada bunda saya semua hal yang saya lakukan setiap hari , bunda saya udah kaya teman, sahabat. saya sering jalan berdua sama bunda saya , saat lagi jalan sama bunda saya, saya sering dibilang kaya kakak adik sama orang-orang saat jalan bersama. saya orangnya pendiem ,tapi kalau udah kenal sama orang saya tidak pendiem, teman-teman biasanya bilang saya ini iseng, saya akan menolong teman yang kesusahan bila saya bisa menolongnya.

saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Universital Esa Unggul jurusan fisioterapi sejak 2014. saya sekarang di semester 4, awalnya orang tua tidak izinin karena mereka tidak tau fisioterapi itu apa, saat tau fisioterapi itu apa orang tua mendukung saya mengambil jurusan ini, awalnya saya tidak ada gambaran mengambil jurusan ini ,tapi saat saya browsing diinternet saya tertarik melihat fisioterapi bisa menolong orang. awalnya masuk kuliah sulit tapi lama kelamaan saya terbiasa.

saya sangat suka kpop sejak tahun 2009 . fandom saya di kpop : SNSD, Exo, friend, Suju sistar, WJSN. Saya sangat suka menonton drama korea yang romantis dan medical udah kaya hobby , saya juga memiliki hobby mendengarkan musik kpop dan music barat , dihandphone saya ada 700 lagu di handphone saya. saya juga suka membaca buku novel dan komik. saya suka novel karena bunda saya sangat menyukai novel, dirumah sangat banyak novel-novel yang telah di beli bunda jadi saya baca saja saat waktu luang. saya sangat suka EXO bias saya di exo adalah chanyeol nama lengkapnya Park Chan Yeol saya ngefans sama dia karena suaranya yg ngebass dan bisa ngerap dan dia sangat baik dan selalu ceria dan di antara member exo dia yg memberikan banyak tawa.

sekian tentang diri saya, terima kasih telah membaca tulisan

saya ………….^-^